Kamis; 23 Februari 2012 | 08:02 WIB | Ganti Bahasa :

Rantai Dendam Kami Telah Putus: Kisah-kisah Perempuan Poso

(Jakarta, 02/02/2011)



Hampir seminggu saya dan ibu-ibu Sekolah Perempuan (SP) Jakarta dan Bogor berada di Tentena, dalam sebuah kebersamaan yang indah. Selain menikmati alam yang asri, kami juga mempelajari banyak hal. Belajar untuk lebih bersemangat dalam menghadapi hidup, terutama belajar tentang memaafkan diri sendiri dan orang lain.

Dalam tulisan ini, saya ingin menuangkan beberapa cerita menarik yang menginspirasi dan memotivasi kami. Berikut adalah beberapa di antaranya:

“Saya tahu kelompok mana yang melakukan kekerasan pada ayah saya, bahkan salah satunya masih saudara.”

“Tapi saat ini saya sudah tidak menyimpan dendam lagi, Mbak. Meskipun saat membicarakan hal ini masih terasa sedih karena kehilangan orangtua yang sangat kami cintai.”

“Saya mencoba berpikir bahwa yang menjadi korban bukan hanya saya, masalah ini dihadapi oleh banyak orang. Saya tidak ingin mewarisi dendam, oleh karena itu ketika anak saya bertanya, saya tidak perlu menceritakan semuanya.”

“Saya pegawai negeri, kemudian mengungsi ketika terjadi konflik. Saya harus tetap mempertahankan hidup keluarga saya. Untuk itu saya berjualan nasi kuning dan membuat keripik untuk dijual. Tidak mudah untuk memulai menata hidup baru. Kami hilangkan semua rasa malu.”

“Saya menikah di pengungsian. Sebelum konflik saya sudah berencana menikah, tapi konflik memporak-porandakan impian kami dan membuat kami harus menikah di pengungsian. Untuk mendapatkan penghasilan kami bekerja di sawah, menanam padi seperti penduduk lokal. Sebelumnya saya tengkulak palawija. Saya membeli hasil panen para petani kemudian menjualnya kembali. Susah sekali bekerja di sawah. Selama setahun kami beradaptasi. Tangan kami luka-luka.”

“Ketika kami kembali ke Malei, sempat ada rasa takut. Tapi setelah bertemu dengan teman-teman di sana, kami berpelukan menangis menumpahkan rasa rindu.”

“Kemarin ada acara ulang tahun anak saya. Saya mengundang teman-teman Muslim, namun sebelumnya ada acara ibadah dulu. Sebenarnya saya ragu apa teman-teman Muslim mau datang. Saya sudah siapkan makanan dan yang memasak juga teman-teman Muslim. Ternyata banyak yang datang, bahkan sebelum ibadah dimulai mereka sudah datang. Saya minta maaf karena harus melakukan ibadah dulu. Ternyata teman-teman mau menunggu dan tak masalah. Saya senang sekali.”

Kisah-kisah itu disampaikan oleh teman-teman dari Malei yang ketika terjadi konflik di tahun 2001 harus mengungsi. Tentu saja masih banyak kisah sedih saat perempuan-perempuan Poso memulai hidup baru, bertahan dalam kondisi kekurangan, berdamai dengan dirinya sendiri untuk bisa menerima kehilangan orang-orang tercinta, kehilangan harta benda, ketakutan, dan sebagainya. Namun, saat ini sudah hampir tak terlihat kesedihan di wajah mereka. Kenangan 2001 tetap ada tak terlupa, namun rantai dendam telah terputus.

Perempuan secara naluri adalah pemelihara kehidupan, karena perempuan punya rahim dimana dari rahimnya lahir sebuah kehidupan. Saat laki-laki berpikir bagaimana strategi mengalahkan musuh, perempuan mencari jalan untuk tetap mencari makanan agar anak-anak mereka tetap hidup. (Mega)





 



Berita Sekolah Perempuan Malei Terkait :


PETISI KOALISI MASYARAKAT SIPIL UNTUK PERDAMAIAN DI SAMPANG
Kasus pembakaran rumah dan rumah ibadah yang berujung pada pengusiran para penganut Syiah di Sampang Madura pada tanggal 29 Desember 2011 telah ...

HAK PEREMPUAN DALAM AGAMA DAN KONSTITUSI
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 dinyatakan: (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung ...

PENGURUS SP DALAM REMBUG RW
Rohimah
(Ketua SP Pondok ...

Link Terkait :

.:: Konfirmasi Donasi ::.
 
Siapakah yang paling dirugikan dalam berbagai kasus kekerasan atas nama agama?

Kelompok Perempuan
Kelompok Laki-Laki
Kelompok Anak-Anak



Pengunjung ke : 0000036664
Your IP : 38.107.179.233