AMAN Indonesia | The Asian Muslim Action Network ©2019

  • admin

FISIP UB dan AMAN Gelar Forum Internasional Bahas Perempuan dalam Lingkaran Terorisme


SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang bekerjasama dengan The Asian Muslim Action Network (AMAN) memprakarsai Indonesia Peacebuilders Forum 2019 di Hotel Santika, Kota Malang, Rabu (27/11/2019). Forum itu sejalan dengan kepedulian global akan pentingnya pendekatan gender.


Pada forum internasional itu, ada 300 perwakilan yang datang dari wilayah Asia-Pasifik. Para tamu undangan berasal dari latar belakang seperti dari pembuat kebijakan, organisasi non-pemerintah, perguruan tinggi, media, sektor swasta, badan PBB, lembaga ASEAN hingga pemimpin agama.


Menurut Direktur The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia Ruby Kholifah, kasus perempuan sebagai pelaku bom bunuh diri, memberikan alarm pada masyarakat tentang lemahnya gender mainstreaming.


”Di sisi lain, dalam Resolusi 1325 yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB tentang Perempuan, Perdamaian dan Keamanan di mana dalam resolusi pertama yang menyebutkan secara eksplisit tentang perempuan di bawah dewan keamanan,” ungkap Ruby, Rabu (27/11/2019).


Keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi terorisme terus meningkat. Kasus terbaru Solimah, istri dari tersangka teroris Abu Hamzah, pada 13 Maret 2019 di Sibolga, Sumatera Utara. Solimah memutuskan untuk meledakkan diri dengan anaknya yang berumur dua tahun daripada harus menyerah kepada penegak hukum.


“Setahun sebelumnya (2018), Puji Astuti bersama dengan dua orang anak perempuan menjadi pembom bunuh diri di sebuah gereja di Surabaya. Pengeboman juga dilakukan bersama dengan suami dan dua putranya di dua gereja lain di lokasi yang berbeda,” imbuhnya.


Ada tiga hal yang kemudian menjadi konsen PBB. Pertama, terorisme dan extrimisme telah menjadi trend global, penting untuk diintegrasikan ke dalam pelaksanaan resolusi 1325.


“Karena ini menyangkut persoalan keamanan perempuan. Dilihat dari tiga konteks negara seperti Kenya, Nigeria dan Indonesia, tampak jelas bahwa perempuan kalau tidak dijadikan instrumen terorisme, mereka dijadikan target keamanan,” paparnya.


Kedua, dokumentasi tentang perempuan bekerja untuk Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) perlu dilakukan karena ini merupakan basis dari pengetahuan untuk menundukkan ekstrimisme dengan melibatkan peran perempuan secara signifikan. Ketiga, distribusi pendanaan untuk masyarakat sipil menjadi penting. Mengecilnya sumber-sumber pendanan masyarakat sipil terutama dalam context CVE.


Menurutnya, persoalan extrimisme dan terorisme tidak cukup hanya direspon menggunakan resolusi 1325. Kenyataannya banyak perempuan dijadikan instrumen dalam radikalisasi. Baik sebagai bagian dari aksi teror maupun sebagai korban.


“Berdasarkan laporan dunia perempuan dijadikan instrumen oleh kelompok-kelompk teroris dan extrimisme,” jelasnya.


Dalam dokumen UN resolusi 2242 juga dijelaskan bagaimana media dan teknologi menjadi bagian penting dipakai oleh kelompok ekstrimis. Untuk itu, penting melakukan penguatan tentang program prevention dan resolusi konflik.


Indonesia Peacebuilders Forum 2019 merupakan upaya untuk menjadi platform di mana para praktisi, akademisi, pembuat kebijakan, dan sektor swasta dapat bertemu untuk mencerminkan dan mendorong pendekatan seluruh masyarakat dengan kepatuhan terhadap kesetaraan gender dan hak asasi manusia.




Artikel ini telah tayang di suryamalang.com dengan judul FISIP UB dan AMAN Gelar Forum Internasional Bahas Perempuan dalam Lingkaran Terorisme, https://suryamalang.tribunnews.com/2019/11/27/fisip-ub-dan-aman-gelar-forum-internasional-bahas-perempuan-dalam-lingkaran-terorisme.


7 views