AMAN Indonesia | The Asian Muslim Action Network ©2019

  • admin

Kursus Singkat Cegah Ekstremisme Kekerasan di UIN Maliki

Pemerintah telah menentukan sikap berkaitan de

ngan WNI berafiliasi dengan ISIS. Tapi saya ingin mendengar bagaimana pendapat forum ini, apakah menolak atau menerima?


Demikian Ruby Kholifah, Direktur AMAN Indonesia mengawali proses kursus singkat dengan melontarkan sebuah pertanyaan untuk menjajagi sekaligus mengenali lebih jauh pandangan 48 peserta. Forum pun terbagi menjadi dua pandangan. Ada yang menyatakan setuju dan ada juga yang tidak sepakat dengan keputusan pemerintah itu.

“Jumlah tangan yang bersepakat menolak maupun menerima hampir seimbang. Jawaban mereka juga tidak jauh berbeda isinya dengan apa yang sudah tersebar di berbagai media,” ujar Ruby.


Forum menjadi dinamis dengan berbagai argumentasi dari para peserta dari kedua kubu yang setuju dan menolak. Demikian salah satu bagian awal dari proses kursus singkat “Perempuan dan Pencegahan Ekstremisme” yang dilaksanakan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) bersama AMAN Indonesia, di UIN Maliki Malang, Jawa Timur, 19 Februari 2020.


Form Backyard to Diningroom


Dalam kursus yang berlangsung seharian itu, Ruby membantu para peserta tentang bagiamana sejarah radikalisme di Indonesia. Di antara poin yang disampaikan antara lain pemaparan mengenai ciri-ciri kelompok radikal dan narasi yang digunakan oleh kelompok ini.


Menurut Ruby, pengenalan hal demikian kepada para peserta dapat membantu mereka untuk mengidentifikasi dan membedakan manakah perilaku intoleran, vigilante, radikal, maupun yang sudah masuk kategori teroris.

“Ini kunci mengapa penting orang paham bedanya setiap kategori agar tidak salah identifikasi,” tegas Ruby.


Ruby melanjutkan bahwa trend terorisme dari back yard ke diningroom telah banyak mengubah strategi berkaitan dengan peran perempuan. Dimana perempuan semakin menemukan ruangnya ketika mereka tergiur oleh berbagai propaganda ekstremisme dengan berbagai macam fasilitas yang ditawarkan.


“Jika ruang offline dirasa terlalu dibatasi, maka bagi perempuan Jihadis ruang virtual adalah lahan tanpa batas yang secara agresif dapat dimanfaatkan untuk meng-ideologisasi sekaligus mengatur perjodohan,” kata Ruby menjelaskan lebih jauh.

Selain itu, Ruby mengajak para peserta memahami spektrum kekerasan yang berorientasi pada pencegahan. Penting untuk memastikan analisis gender terintegrasi dalam proses deradikalisasi, rehabilitasi, dan reintegrasi. Hal tersebut akan mampu membongkar kekuatan patriarki yang tersembunyi di balik pengalaman perempuan yang terlibat dalam gerakan radikal maupun ekstremisme, baik itu mereka terlibat secara langsung maupun tidak.


Kemudian untuk mempertajam pemahaman para peserta terkait faktor-faktor engangement dan dis-engagement pada setiap kasus perempuan yang sangat bervariasi, maka peserta diminta untuk membaca dan menganalisis lima studi kasus perempuan yang berbeda-beda, yaitu sebagai pelaku terorisme, istri teroris, korban bom, returnee, dan perempuan dis-engage dengan kelompok teroris.


Peran CSO dan Pemerintah?

“Pada sesi terakhir, saya menyampaikan tentang peran pemerintah dan masyarakat sipil dalam melakukan pencegahan ekstrimisme. Sekaligus mengklarifikasi pilihan "menolak" atau 'menerima' pada kasus 600 WNI berafiliasi dengan ISIS,” ujar Ruby.


Dia juga memaparkan kondisi infrastruktur penanganan rehabilitasi sosial dan reintegrasi di Indonesia, dan berbagai tantangannya. Termasuk dia menjelaskan mengapa penting pemerintah dan organisasi masyarakat sipili di daerah perlu memahami betul-betul isu ini.Dan sekaligus, lanjutnya, pentingnya terlibat dalam upaya rehabilitasi dan reintegrasi, termasuk melakukan upaya pencegahan yang lebih luas di berbagai lini, khususnya di lembaga pendidikan.


“Terima kasih UIN Maulana Malik Ibrahim yang sudah memfasilitasi Kursus Singkat, dan sudah sangat gupuh (mau report nyiapin segalanya), lungguh (menyediakan ruangan yang sangat nyaman) dan suguh (menyediakan suguhan yang sehat (suguhannya buah salak dan pisang dan jumlahnya tak terbatas...ha ha ha jadi inget Nyai Nur Rofiah,” kata Ruby.


Dan terima kasih untuk semua peserta dari sejumlah daerah yang cukup jauh untuk hadir dalam kegiatan ini, seperti dari Blitar, Pasuruan, Lamongan, Surabaya, dan Malang. Semoga kursus ini membawa pencerahan bagi para peserta dan siap untuk bekerjasama dengan AMAN Indonesia dalam upaya melakukan pencegahan ekstremisme kekerasan.**


#KursusSingkatPerempuandanPVE #AmanIndonesia #Malang #UINMalang #UINMaliki #PCVE #LawanRadikalisme #CegahEkstremisme