AMAN Indonesia | The Asian Muslim Action Network ©2019

  • admin

Mahasiswa Juga Gelisah


Berbeda dengan berbagai kursus singkat sebelumnya, penyelenggara kegiatan kursus kali ini adalah anak-anak muda yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univesitas Negeri Semarang (UNNES), UKM Debat, dan UKM Lex Scientia. Hmm, asli keren nih.


Apa yang dilakukan oleh anak-anak muda milenial di kampus UNNES ini tentu saja layak mendapat pujian dan dukungan. Pasalnya dalam beberapa hasil penelitian belakangan ini, lembaga pendidikan, termasuk kampus-kampus, menjadi salah satu sasaran dari penyebaran doktrin dan pandangan radikalisme dan intoleran dengan target lembaga-lembaga intra dan ekstra kampus yang digawangi dan dikelola oleh para mahasiswa.


“Mereka juga gelisah. Gelisah karena Islam ekslusif tumbuh sumbur di kampus,” kata Ruby Kholifah di sela-sela kursus singkat “Perempuan dan Pencegahan Ekstremisme” yang diadakan di Universitas Negeri Semarang, 14 Maret 2020.

Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme


Dalam kesempatan kursus tersebut, Ruby Kholifah juga menegaskan bahwa banyak sekali orang di tengah masyarakat kita yang belum memahami dengan baik perbedaan antara intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Tapi pada sisi lain, orang umumnya lebih mudah ketika diminta untuk menyebut dan mengidentifikasi tanda-tanda maupun kelompok mana saja yang menyebarkan pandangan keagamaan yang ekslusif dan merasa paling benar.


Semisal dosa jariyah bagi perempuan yang pasang foto di media sosial, mandi kembang bagi yang melakukan dosa, kelompok yang menafsirkan al-Qura’an semaunya, dan masih banyak lagi identifikasi ciri dan tanda bagi kelompok ekslusif dan menyebarkan kebenaran tunggal di masyarakat.


Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari ideologi ekstremisme dan pandangan yang ekslusif? Dalam paparannya, perempuan yang menjadi Country Representatif AMAN Indonesia ini menegaskan bahwa ideologi dan pandangan tersebut dapat membawa kemunduran dalam masyarakat kita.


“Bukan saja domestikasi perempuan, hiject konsep kesetaraan gender, instrumentalisasi tubuh perempuan dibilang empowerment, tapi juga menempatkan laki-laki tidak manusiawi. Misalnya dikonstruksikan agar berpoligami padahal punya satu istri saja sudah kompleks masalahnya. Belum lagi keyakinan anti-KB dan Vaksin yang membahayakan kehidupan anak, dan orang tua harus super ekstra dalam menanggung konsekuensi pilihan tidak masuk akal,” jelas Ruby.


Dalam kursus singkat ini, dengan cara yang sederhana, Ruby berharap para peserta dapat memahami kontruksi gender dan kuasa patriarki yang tersembunyi ketika mereka menganalisis persoalan dan isu ekstremisme.


“Bukan saja membahas tentang kehadiran perempuan, tapi menyelam untuk mengetahui bagaimana relasi kuasa bekerja, proses indoktrinasi pada gender yg berbeda, serta kekuatan magis "merasa berdosa" pada fase hidup kita, yang mana itu semua terbukti mudah digerakkan untuk menempuh hal-hal tidak masuk akal,” ujarnya.

Ruby meyakini bahwa, dirinya yakin betul “melalui soft dan hard power perempuan, kita bisa mendorongkan disengagement, rehabilitasi, rekonsiliasi dan reintegrasi.”


Akhirnya kata terimakasih kepada semua peserta yang telah begitu antuasis dan segenap pihak yang membantu kegiatan kursus singkat ini. Semoga apa yang dilakukan para mahasiswa ini dapat menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya, sekaligus mendorong mereka menjadi agen-agen perdamaian.**