AMAN Indonesia | The Asian Muslim Action Network ©2019

  • admin

Mengubah Pola Komunikasi Dalam Keluarga

Updated: Dec 20, 2019

BOGOR – Perjalan yang panjang menuju Desa Gunung Bunder dari Stasiun Bogor. Sekitar 2 jam perjalanan menuju lokasi Sekolah Perempuan (SP) Gunung Bunder 2. Perjalanan tersebut, tidak akan terbayar dengan dengan semangat ibu-ibu untuk belajar. Ya, para ibu Desa Gunung Bunder 2 yang kurang kurang lebih mencapai 40 orang ini sangat bersemangat untuk belajar.


Setiap minggunya para ibu mendapatkan pelajaran dengan tema yang berbeda terkait dengan perdamaian. Membangun kembali SP Gunung Bunder 2 ini memang tidak sulit. Tahun ini menjadi tantangan baru untuk mereka. Terutama tiga orang anggota lama SP Gunung Bunder 2, Teh Neneng, Teh Uyun dan Teh Yeyen. Mereka harus berusaha membangun kembali kesepakatan dan komitment dalam mengembangkan organisasi, bukan sekedar kegiatan sesaat.


Ditambah lagi dengan latarbelakang anggota SP Gunung Bunder 2 sangat beragam. Mulai dari buruh kebun, penjual makanan keliling, membuka warung kecil di rumah dan lain sebagainya. Begitu juga dengan tingkat pendidikan yang sangat beragam. Mulai dari tidak bersekolah, hanya sekolah Dasar dan beberapa lulus SMK. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi ketiganya dalam membangun SP Gunung Bunder 2.


Walaupun begitu, para anggota merasakan pengalaman yang sangat luar biasa. Misalkan Ibu Dedeh (38) yang menikah dengan usia 16 tahun. Dia sangat merasakan pelajaran yang diberikan dalam Sekolah Perempuan memberikan dampak yang sangat luar biasa. Terutama dalam hubungan dengan suaminya.


”Awalnya saya seringkali takut untuk meminta bantuan kepada suami. Izin untuk mengikuti SP juga saya takut, suami saya sempat melihat kegiatan SP beberapa kali. Jadinya, saya diberikan izin,” terangnya, belum lama ini.


Dia menceritakan banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Contoh kecilnya, dirinya bisa meminta pertolongan saat mengerjakan pekerjaan rumah kepada suami. Lalu, meminta izin dengan untuk kegiatan SP. Hanya pesan yang selalu dirinya ingat dari sang suami, jangan meninggalkan anak-anaknya sendiri.


Diakui olehnya, saat ini masih memiliki anak kecil yang harus diurus. Dia pun harus membawa anaknya ketika mengikuti SP. Walaupun begitu, dirinya sangat bersyukur dengan adanya SP. Dirinya bisa mengubah pola pikir dan prilaku yang bisa diterapkan di keluarga.

Cerita yang sama pun dialami oleh Teh Siti. awalnya dilarang suami untuk ikut kegiatan SP karena khawatir jika kegiatan SP membawa dampak negatif. Bahkan, bisa merusak rumah tangga mereka dengan seringnya teh Siti keluar rumah.


”Tetapi setelah suami teh Siti melihat secara langsung kegiatan kelas SP saat menjemput saya, akhirnya suami saya mengijinkan untuk ikut SP,” ungkapnya.


”Bahkan jika ada kegiatan besar di Desa, suami teh Siti ikut bergotong royong menyiapkan tempat,” tambahnya.


Cerita pun sedikit berbeda dengan yang dirasakan oleh Ibu Ala, Ketua Majelis Taklim. Dirinya mengaku beberapa kali memasukan materi yang didapat dalam SP disisipkan dalam ceramahnya. ”Saya paling sering saya masukan adalah materi mengenai cara berkomunikasi dalam keluarga. Diapun bertekad untuk menyebarkan lebih luas materi yang dia dapat dari SP,” singkatnya.


Terakhir, Teh Uyun sedang membuat skripsi tentang menjadi orang tua yang hebat. Dia mengaku jika skripsinya berasal dari materi-materi yang diberikan SP. Materi yang diberikan dalam SP membuat dirirnya mudah dalam menulis skripsi.


”Saya sangat merasa terbantu dengan materi SP yang diberikan oleh SP,” pungkasnya. (nita)

22 views