AMAN Indonesia | The Asian Muslim Action Network ©2019

  • admin

Suraiya Kamaruzzaman


Perdamaian sesuatu yang niscaya. Untuk menyakinkan banyak orang bahwa yang dibutuhkan Aceh adalah perdamaian bukan referendum atau merdeka, mendorong Aya untuk melipatgandakan basis-basis yang memiliki ideologi yang sama, yaitu perdamaian. Suraiya menyadari bahwa penting untuk menyatukan suara perempuan-perempuan Aceh untuk bergerak seirama mendorongkan proses perdamaian. Suraiya juga merasa perlu mendekati perempuan-perempuan yang bekerja di lembaga bermainstream laki-laki untuk mendukung perjuangannya. Pada tanggal 2 Juni, sebuah pertemuan berhasil digelar.


Untuk menggugah empati para perempuan muda ini, Suraiya memaparkan data-data tentang dampak konflik dari berbagai desa dan terutama dampak pada perempuan dan anak, termasuk kondisi perempuan dan anak yang harus tinggal di pengungsian.


Pada akhir presentasinya, Suraiya mengunci audiensi dengan urgensi mengubah nasib perempuan dan gerakan perdamaian. Perdamaian itu tujuan untuk bisa memperbaiki nasib semua perempuan, anak-anak dan semua masyarakat Aceh. Dari pertemuan inilah lahir Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan (RPuK), dimana diapun akhirnya diangkat sebagai koordinator selama enam bulan untuk mencanangkan pondasi organisasi. Aya sangat sadar bahwa gerakan perdamaian butuh banyak connector (penghubung).


Oleh karenanya setiap keputusan menentukan strategi pendekatan dan taktik harus benar-benar dipikirkan tidak membuat tersinggung salah satu institusi baik itu institusi militer, GAM, pemerintah nasional atau gerakan sosial lainnya. Dari sinilah, gerakan Flower Aceh sedikit demi sedikit mendapatkan dukungan yang semakin luas. Bahkan pihak militerpun tidak canggung memasang poster yang diproduksi oleh Flower Aceh.


Misalnya kata “Damai”. Pertama kali muncul di Kongres Perempuan Aceh atau lebih dikenal dengan Duek Paket Inong Aceh pada pertengahan Februari 2000. Ditengah dorongan aktifis HAM dan akfitis GAM yang mendorongkan pada referendum dan merdeka. Sebuah pesan dalam bahasa Aceh “Kru seumangat Inong Aceh bak duek pakat keu aman, makmu, dan adee” (Bersemangatlah perempuan Aceh untuk duduk bersama mewujudkan kondisi aman, makmur, dan adil). Seperti mantra bagi perempuan-perempuan Aceh untuk menyampaikan aspirasi mereka menentukan masa depan Aceh.


Strategi dan pendekatan gerakan perempuan perdamaian meluas/ berkembang dari penguatan basis ke pendampingan elit pengambil keputusan. Ini dilakukan untuk mengawal semua produk kebijakan haruslah responsif gender. Meskipun kecewa dengan arah kebijakan pemerintah Aceh pasca perdamaian, Suraiya tidak pernah menyerah. Selain penguatan perempuan ditingkat grassroot, kini, dialog dan lobby intensif di semua lini eksekutif dan legislative menjadi kerja utama lembaga-lembaga perempuan termasuk Flower Aceh, serta Balai Syura, koalisi organisasi perempuan di Aceh yang dibentuk pada tahun 22 April 2000, pascaKongres Prempuan Aceh pertama. Tujuannya agar semua kebijakan perlindungan hak-hak perempuan dan anak benar-benar terintegrasi dalam kanun dan program-programnya.